Antisipasi Coronavirus Disease (COVID-19), Dinkes Menggelar Rapat Koordinasi

(14/2/2020). Bertempat di Audiotorium BLUD RSU Kota Banjar, Dinas Kesehatan Kota Banjar mengadakan Pertemuan Kesiapsiagaan menghadapi Infeksi Coronavirus Disease (COVID-19) yang saat ini terjadi epidemi di daratan China dan sudah ditetapkan sebagai PHEIC (Public Health Emergency International Concern) atau kedaruratan kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 30 Januari 2020 yang lalu.
Pertemuan koordinasi yang melibatkan seluruh jajaran puskesmas dan rumah sakit se-Kota Banjar dibuka oleh dr. H. Herman, M.Kes sebagai Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjar. Dalam kesempatan tersebut beliau menyampaikan bahwa masyarakat tidak perlu panik secara berlebihan dalam menyikapi epidemic COVID-19 di China, tetapi harus lebih mengedepankan kewaspadaan. “Pola Hidup Bersih dan Sehat terutama kebiasaan cuci tangan pakai sabun, menerapkan etika bersin, serta mengurangi kontak dengan banyak orang merupakan beberapa upaya pencegahan dari penularan COVID-19”, katanya.
Menurut dr. Dilla Laswantina, dokter spesialis paru yang bertugas di BLUD RSU Kota Banjar menyatakan bahwa terdapat empat kriteria kasus terkait COVID-19, yaitu : orang dalam pemantauan, pasien dalam pengawasan, kasus probable, dan kasus konfirmasi.
Kriteria orang dalam pemantauan adalah seseorang yang mengalami gejala demam (≥380C) atau ada riwayat demam atau infeksi saluran pernafasan akut ringan sampai berat tanpa pneumonia yang memiliki riwayat perjalanan ke negara yang terjangkit pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala. Sedangkan pasien dalam pengawasan memiliki kriteria di atas ditambah adanya pneumonia ringan hingga berat yang dikuatkan dengan adanya riwayat kontak dengan penderita konfirmasi (positif) dan atau adanya riwayat perjalanan ke daerah terjangkit.
Kriteria kasus probable adalah pasien dalam pengawasan yang diperiksa untuk COVID-19 tetapi inkonklusif (tidak dapat disimpulkan) atau seseorang dengan dengan hasil konfirmasi positif pan-coronavirus atau beta coronavirus. Adapaun kasus konfirmasi menunjukan hasil pemeriksaan laboratorium yang positif terhadap COVID-19.
Sementara menurut dr. Ade Novita, SpPK yang juga menjadi narasumber pada kesempatan tersebut menyatakan bahwa virus corona tipe baru yang diberi nama resmi COVID-19 oleh WHO dapat menyebar antarmanusia dari droplet yang masuk dari orang terinfeksi virus itu ke tubuh manusia yang lain. Selain itu, masyarakat juga lebih berhati-hati dan sudah mulai menghindari orang-orang yang terindikasi gejala terinfeksi virus, seperti sesak napas dan batuk serta memiliki riwayat perjalanan ke wilayah yang terdapat kasus infeksi virus COVID-19. “Diperlukan surveilans yang memadai melalui pemantauan orang yang memiliki riwayat berkunjung dari daerah terjangkit”, tegasnya.
Pada kesempatan tersebut juga dilakukan simulasi pemakaian APD (Alat Pelindung Diri) yang wajib digunakan oleh orang yang kontak erat dengan kasus konfirmasi agar tidak terjadi penularan. (Dansyah).

About dinkes_banjar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *