Curah Hujan, Prediktor Utama Kejadian Penyakit Dengue

Bertempat di kantor SAMSAT Kabupaten Pangandaran, Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Jawa Barat menggelar Diseminasi Kajian Epidemiologi Data Informasi Penyakit Demam Berdarah terkait Potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) Lintas Kabupaten Kota di Jawa Barat pada hari Kamis (28/7).

Penelitian ini melibatkan para pakar, diantaranya : epidemiolog kesehatan madya, statistisi, dan unsur terkait lainnya. Menurut Hubullah Fuadzy, M.Si, salah satu anggota tim peneliti menyampaikan bahwa kajian ini hanya meneliti faktor lingkungan, yaitu curah hujan, suhu, dan kepadatan penduduk. “Faktor agent dan host pada penelitian ini tidak dilakukan”, katanya.

Berdasarkan hasil kajian epidemiologi diketahui bahwa variabel yang paling berhubungan dengan kejadian penyakit Dengue adalah curah hujan (Odds Ratio : 21,43), artinya wilayah dengan curah hujan > 4.800 mm beresiko mengalami kenaikan kasus penyakit Dengue 21,43 kali dibandingkan dengan wilayah yang memiliki curah hujan rendah.

Variabel lainnya adalah kepadatan penduduk dengan Odds Ratio : 8,75, artinya wilayah dengan kepadatan penduduk > 1.792,4 jiwa/km2 beresiko mengalami kenaikan kasus penyakit Dengue 8,75 kali dibandingkan dengan wilayah dengan kepadatan penduduk yang rendah. Adapun variabel suhu secara statistik tidak berhubungan dengan kejadian penyakit dengue.

Dari hasil analisis menggunakan Model Risiko Kasus DBD pada Kabupaten/Kota di Jawa Barat berdasarkan kepadatan penduduk, suhu, dan curah hujan, diketahui bahwa Kota Banjar berpeluang 10,5% mengalami peningkatan kasus Dengue hingga KLB.

“Upaya peningkatan kewaspadaan kemungkinan KLB di kabupaten/kota terutama difokuskan pada wilayah padat penduduk dan curah hujan tinggi, terutama di wilayah-wilayah yang menjadi sentra mobilitas penduduk”, tambahnya.

(dansyah.epidly)

About dinkes_banjar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *