Sosialisasi Gangguan Ginjal Akut Progresif Atipikal Pada Anak (GGAPA)

19 Oktober 2022
Sejak akhir Agustus 2022, Kementerian Kesehatan dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah menerima laporan peningkatan kasus Gangguan Ginjal Akut Progresif Atipikal/Acute Kidney Injury (AKI) yang tajam pada anak, utamanya dibawah usia 5 tahun. Peningkatan kasus ini berbeda dengan yang sebelumnya, dan saat ini penyebabnya masih dalam penelusuran dan penelitian. Jumlah kasus yang dilaporkan hingga 18 Oktober 2022 sebanyak 206 dari 20 provinsi dengan angka kematian sebanyak 99 anak.

DEFINISI OPERASIONAL KASUS

A.      Kasus Suspek Gangguan Ginjal Akut Progresif Atipikal pada anak

  • Anak usia 0-18 tahun (mayoritas usia balita)
  • Gejala anuria atau oligouria terjadi secara tiba-tiba

 

B.      Kasus Probable

  • Kasus suspek ditambah dengan tidak terdapat riwayat kelainan ginjal sebelumnya atau penyakit ginjal kronis
  • Disertai/tanpa disertai gejala prodromal seperti: demam, diare, muntah, batuk
  • Pemeriksaan lab didapatkan adanya peningkatan ureum creatinine (creatinine > 1,5 kali atau naik senilai lebih besar sama dengan 0,3 mg/dL)
  • Pemeriksaan USG, bentuk dan ukuran ginjal normal, tidak ada kelainan seperti batu, kista atau massa

 

5 provinsi tertinggi yang melaporkan kasus GGAPA adalah DKI Jakarta, Sumatera Barat, Aceh, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

Tren kasus GGAPA pada tahun 2022 menunjukan peningkatan sejak bulan Juli sampai dengan September 2022. Kasus tertinggi ada di bulan September (n=78 kasus). Jumlah kasus GGAPA paling tinggi pada anak dengan kelompok umur 1-5 tahun.

Jumlah Kasus GGAPA berdasarkan Antibodi COVID-19 : 56 dari total 206 pasien AKI memiliki hasil tes antibody COVID-19 positif

Jumlah Kasus GGAPA berdasarkan Vaksinasi COVID-19 : 126 dari total 206 pasien AKI belum divaksinasi COVID-19 karena Sebagian besar merupakan anak < 6 tahun

Jumlah Kasus GGAPA berdasarkan hasil Antigen/ PCR COVID-19 : 122 dari total 206 pasien AKI memiliki hasil tes COVID-19 negatif

  • 7 dari 32 kasus ditemukan adanya Human Parainfluenza virus (21,9%)
  • 6 dari 32 kasus ditemukan adanya influenza A (18,8%)
  • 5 dari 32 kasus ditemukan adanya adeno virus (15,6%)
  • Selain itu juga ditemukan 8 kasus (25%) dengan koinfeksi

Hasil Pemeriksaan Puslabfor per Tanggal 18 Okt 2022

Puslabfor telah menerima :

  • 6 sampel darah dan urin dari 6 pasien yang dirawat di RSCM
  • 19 sampel obat (tidak tahu merknya apa karena diberi label) Hasil pemeriksaan
  • 6 sampel pasien : 4 sampel terdeteksi ethylene Glycol dan turunannya
  • 19 sampel obat : 16 sampel obat terdeteksi ethylene Glycol dan Prophylene Glycol
  • Prophylene glycol sebenarnya merupakan zat yang lazim terdapat pada sediaan sirup Saat ini, ada tambahan 5 sampel dari RSCM yang diterima oleh Puslabfor pada tgl 18 Okt 2022.

Bisa lihat disini 

 

 

About dinkes_banjar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *